Jumat, 21 Oktober 2011

Freddie Mercury

Freddie Mercury (lahir di Stone Town, Zanzibar - sekarang termasuk wilayah Tanzania, Afrika Timur, 5 September 1946 – meninggal 24 November 1991 pada umur 45 tahun) adalah vokalis grup musik rock Queen asal Britania Raya yang bernama asli Farrokh Bulsara. Semasa duduk di bangku sekolah kawan-kawannya menjulukinya "Freddie" sehingga akhirnya keluarganya memanggilnya Freddie juga.
Ia terlahir dari keluarga keturunan Parsi India (Zoroastrian). Orang tuanya adalah seorang diplomat yang selalu berpindah-pindah, hingga akhirnya menjadikan Zanzibar sebagai tempat kelahiran Freddie Mercury. Menjelang remaja mereka hijrah ke Inggris karena terjadi perang dan akhirnya mereka menetap di sana.
Dalam dunia musik internasional nama Freddie Mercury adalah salah satu Legenda musik Rock. Karya-karyanya termasuk musik abadi yang dapat didengar segala usia.
Menurut rekannya Brian May, Mercury adalah musisi yang berbakat sekaligus eksentrik. Freddie menulis lagu dengan kunci-kunci yang aneh. Kebanyakan band rock memainkan kunci A atau E, dan bisa D atau G, lain dengan musik Freddie yang mempunyai struktur chord yang aneh dan susah dimainkan dengan gitar. Dia dilahirkan dengan bakat dalam bidang seni yang luar biasa, sehingga tak ada satupun grup musik yang bisa menyaingi lagu-lagu yang digubahnya.
Grup musik Queen yang beranggotakan Freddie Mercury, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, pernah dinobatkan oleh majalah Rolling Stone sebagai satu-satunya grup musik rock yang seluruh anggotanya bergelar Sarjana meskipun tidak pernah penghargaan resmi untuk itu.
Banyak grup Rock modern yang menganggapnya sebagai panutan, seperti Guns N' Roses, Metallica hingga XPDC. Ia meninggal akibat AIDS pada 24 November 1991.

Diskografi

wikipedia

»»  Selengkapnya

Saint Loco

Jagad rock tanah air seakan tak berhenti melahirkan band-band spektakuler untuk melaju ke barisan terdepan. Salah satunya adalah Saint Loco, band yang mengawali karirnya di kancah rock tanah air pada tahun 2004 dengan debut album bertajuk Rock Upon A Time. Album ini menjadi awal langkah sukses Saint Loco mengenalkan dirinya ke publik dengan mengusung lagu-lagu berkekuatan hip-rock. Berbagai penghargaan berhasil mereka sabet diantaranya adalah; Best Rock Album versi Majalah Hai tahun 2005 dan Rock Best Of The Year Album versi I-Radio tahun 2005. Single "Microphone Anthem", yang menjadi unggulan mereka kala itu, berhasil mengejawantahkan Saint Loco sebagai penerus generasi musik rock Indonesia .
Di bulan September 2006, MTV mengganjar mereka dengan predikat MTV EXCLUSIVE ARTIST for SEPTEMBER. Album kedua mereka yang bertajuk Vision For Transition dirilis dibulan yang sama. Sebuah album yang menggambarkan progresi dari musikalitas keenam anak super kreatif; Iwan (gitaris), Gilbert (bassis), Nyonk (drummer), Tius (the spinner), Joe (vokalis) dan Berry (MC). Ini sebagai satu pegangan bahwa nama Saint Loco masih punya kekuatan untuk musik rock yang berkualitas.
Another Vision for Indonesia Rock Concept
Lewat album keduanya, Vision For Transition, Saint Loco menawarkan konsep musik yang lebih berani. Dari kulit albumnya (baca: cover) sudah terbaca keberanian Saint Loco dengan memberikan warna-warna berani dan penempatan yang terbilang tidak umum. Untuk isinya, rock yang dibawakan mereka kali ini lebih sing-a-long dibandingkan album sebelumnya meski tensi tonalitas rock mereka tetap tinggi. Dengarkan saja "Kedamaian", sebuah lagu mellow-rock yang menampilkan seorang vokalis bjorky-melankolis, Astrid. Lagu ini dibuka dengan dentingan piano dan dihantarkan dalam beat mid-tempo. Kekuatan lirik bilingual dan karakter vokal Joe dengan Astrid serta MC Berry menambah padu lagu yang menjadi single pertama album ini.
Penggarapan album Vision For Transition ini menempuh masa 7 bulan preproduction serta pengumpulan materi yang dimulai sekitar Agustus 2005 dan dilanjutkan dengan 3 bulan untuk recording dan 1 bulan mixing. Karena hampir seluruh lagu dalam album Vision For Transition dibuat di studio pribadi milik DJ Tius, Saint Loco kali ini merasa bisa lebih mengeksplorasi sound dan berkespresi sebebas mungkin. Dengar saja "Terapi Energi" dari track 2, sebuah lagu yang menampilkan totalitas bermain musik ala Saint Loco. ‘It’s the real Saint Loco’.
Mastering album Vision For Transition ini dikerjakan di sebuah studio bernama Euphonic Masters yang ada di Memphis , Tennese, Amerika Serikat. Ditangani langsung oleh Brad Blackwood, seorang insinyur tata suara kenamaan yang pernah menyabet 9 nominasi Grammy Award dan 6 nominasi Dove Award sejak tahun 1998.
Keberanian lainnya yang ditampilkan Saint Loco adalah permainan emosi lagu per lagu. Jika disimak dari awal runtutan lagu dalam album Vision For Transition ini, Anda akan dibawa banging your head lalu diselingi dengan fase exhaling berganti-gantian. Ini membuat fungsi pendengaran tidak terganggu dengan bunyi-bunyi yang pekak namun Anda akan dimanja untuk menikmati petualangan Vision For Transition ini dengan hati gembira. Mau contoh? Di track 5 kita akan disuguhi permainan kombinasi antara gitar akuistik dan crunch serta synth-string yang membuai yang hadir di lagu "Fallin". Beat middle di "Fallin" ini hadir sebagai penghantar untuk hentakan di track 6, "Get Up". Setelah lelah moshing dan jejingkrakan, track selanjutnya, "Centro", mengistirahatkan pendengaran dalam instrumentalia tembang passionate-electronica-sound sebelum dipecahkan lagi ditrack berikutnya, "Transition". Maka sayang sekali jika Anda menikmati album ini tidak utuh atau hanya satu atau dua lagu saja.
Why Vision For Transition Now?
Musik rock di Indonesia terus berkembang ke arah yang positif, thanks to Godbless! Dan Saint Loco melihat perkembangan ini sebagai motivator mereka untuk bisa berkreasi lebih. Trend musik rock dunia yang kini berkembang dengan memasukkan unsur Rap, Punk, New Wave serta electronica menjadi acuan Saint Loco untuk diterapkan dalam musik mereka. Dengar saja Vision For Transition yang kini lebih minimum aksi solo melodi gitar dan cenderung dominan lewat riff atau blocking gitar dan loop. Konsentrasi album ini pun dipusatkan di lagu yang lebih melodius dan reffrain yang catchy. "Musik metal telah berubah… ," tandas Saint Loco tegas.
Maka sambutlah salah satu ikon dari regenerasi musik rock tanah air, Saint Loco. Lewat Vision For Transition ini mereka kembali menghentak dan mencoba untuk menelusup kembali dan tampil berbeda dari yang sudah ada.
Saint Loco, Vision For Transition, are you ready to break your voice again?
Sumber : http://www.sonybmg.co.id
»»  Selengkapnya

Arcade Fire

Arcade Fire merupakan sebuah grup musik asal Kanada yang bermarkas di Montreal, Quebec. Grup musik ini beranggotakan 11 orang yaitu Win Butler, Régine Chassagne, Richard Reed Parry, William Butler, Tim Kingsbury. Sarah Neufeld, Jeremy Gara, Owen Pallett, Marika Anthony Shaw, Colin Stetson, dan Kelly Pratt. Album pertamanya ialah Funeral dirilis tahun 2004.

Diskografi
 
Latar belakang
Asal Montreal, Quebec, Kanada
Genre Indie rock
Art rock
Post-punk revival
Baroque pop
Tahun aktif 2003–sekarang
Label Merge, Rough Trade, City Slang
Artis terkait Bell Orchestre
Final Fantasy
Situs web ArcadeFire.com
Anggota
Win Butler
Régine Chassagne
Richard Reed Parry
William Butler
Tim Kingsbury
Sarah Neufeld
Jeremy Gara
Owen Pallett
Marika Anthony Shaw
Colin Stetson
Kelly Pratt
Mantan anggota
Howard Bilerman
Josh Deu
Brendan Reed
Myles Broscoe
Dane Mills
Tim Kyle
                                             

»»  Selengkapnya

Kamis, 20 Oktober 2011

Hatebreed

Biografi :

SEJARAH
Hetebreed dibentuk pada tahun 1994 di Bridgeport, Waterbury, dan New haven. Mereka memulai dengan merekam tiga lagu demo dan menjualnya di daerah lokal mereka. Tiga lagu tersebut kemudian dirilis dengan New York’s Neglect pada tahun 1995. Pada tahun berikutnya mereka merilis “Satisfaction is the Death of Desire” di Victory Records. Satisfaction terjual lebih banyak jika dibandingkan dengan debut lainnya dalam sejarah perusahaan rekaman tersebut.

Mereka melakukan tour dengan band metal nasional seperti Slaver, Deftones, Entombed, dan Napalm Death mempengaruhi musik mereka dan membawa mereka penajdi pusat perhatian dari para penggemar non-hardcore/metalcore. Pengaruh tersebut juga muncul pada album mereka selanjutnya di tahun 2002 “Perseverance” dan “The Rise of Brutality” di tahun 2003.
Setelah merilis “The Rise of Brutality” band ini ikut serta dalam tour 2004 “Unholy Alliance” di Eropa bersama dengan Slaver, Slipknot, dan Mastodon. Pada Juni 2006, mereka juga melakukan tour ke Eropa dan tampil di Download Festival di Donnington, Inggris.
Album keempat mereka “Supremacy” dirilis pada Agustus 2006 yang bekerja sama dengan Roadrunner records dan menampilkan gitaris baru Frank Novinec (yang sebelumnya bermain dengan Ringworm, Terror, dan Integrity).

Pada 13 September 2006, gitaris mereka Lou “Boulder” Richards bunuh diri di usia 35. Hatebreed kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa mereka meminta maaf atas kejadian ini dan berdoa agar Lou mendapatkan kedamaian.

Pada tahun 2008, Hatebreed tampil di Festival Wacken Open Air bersama Iron Maiden, Children of Bodom, dan Avantasia. Pada April 2008, Hatebreed menandatangani kerja sama dengan Koch Records untuk merilis album DVD mereka dengan judul “For The Lions”. Pada 9 Februari 2009, sang gitaris Sean Martin keluar dari keanggotaan band dikarenakan dia mempunyai ketertarikan pada jenis musik lain.

Album kelima mereka “Hatebreed” dirilis pada 29 September 2009 dan pada tahun 2010 mereka berpartisipasi di festival Mayhem.

DISKOGRAFI
Satisfaction Is The Death of Desire (1997)
Perseverance (2002)
The Rise of Brutality (2003)
Supremacy (2006)
For The Lions (2009)
Hatebreed (2009)


http://selebriti.kapanlagi.com/hollywood/h/hatebreed/
»»  Selengkapnya

Simple Plan

Simple Plan adalah band pop punk asal Montréal, Québec, Kanada. Sejak terbentuk mereka tidak pernah mengalami pergantian personil dan mereka adalah Pierre Bouvier, Jeff Stinco, Sébastien Lefebvre, Chuck Comeau, dan David Desrosiers. Sampai saat ini mereka telah merilis 4 album studio: No Pads, No Helmets...Just Balls (2002), Still Not Getting Any... (2004), Simple Plan (2008), dan Get Your Heart On! (2011).

Pada tahun 1996, band Reset dibentuk oleh Pierre Bouvier, Chuck Comeau, Philippe Jolicoeur, dan Adrian White.[1] Reset melakukan tur di Kanada bersama MxPx, Ten Foot Pole, dan Face to Face, walaupun mereka tidak terlalu berhasil mendapatkan popularitas.[2] Album perdana mereka, No Worries, dirilis pada 1999. Tak lama, Chuck Comeau pergi dari band untuk masuk kuliah.[1] Dua tahun kemudian dia bertemu dengan teman-temannya semasa SMA, Jeff Stinco dan Sébastien Lefebvre, yang pada saat itu sedang berada di band mereka masing-masing, dan mereka berniat untuk bergabung membentuk band sendiri.[1] Sementara itu, Reset merilis Album kedua mereka, No Limits. Suatu hari, Comeau dan Bouvier bertemu kembali di konser Sugar Ray[2] dan Bouvier meninggalkan Reset untuk bergabung dengan Comeau. David Desrosiers lalu menggantikan posisi Bouvier di Reset, tetapi dia jga meninggalkan Reset enam bulan kemudian dan bergabung dengan Bouvier.[1][2] Hal ini membuat Bouvier dapat berkonsentrasi pada posisi vokal, setelah sebelumnya sempat merangkap mengisi posisi vokal sekaligus bass.
Asal nama Simple Plan tidaklah jelas. Ketika ditanya, para personil band sering memberikan jawaban berupa lelucon, termasuk salah satunya adalah karena mereka membentuk band sebagai sebuah "rencana dadakan" untuk menghindari bekerja di restoran cepat saji. Tapi bagaimanapun, kemungkinan paling besar, nama "Simple Plan" diambil dari judul film "A Simple Plan",[3][4] atau lagu karya Piebald berjudul "Just a Simple Plan".

Pada Maret 2002, Simple Plan merilis studio album pertama mereka, No Pads, No Helmets...Just Balls yang dilanjutkan denga dirilisnya singel: "I'm Just a Kid", "I'd Do Anything", "Addicted", dan "Perfect". Simple Plan tercatat mengatakan bahwa mereka menginginkan album yang murni pop-punk.[5] Judul album ini mengacu pada sebuah frase populer dari olahraga rugby, "No pads, no helmets, just balls."
Album ini mula-mula dirilis di Amerika Serikat dengan isi dua belas lagu, dengan lagu terakhir "Perfect". Namun edisi bonus dan edisi luar negeri kemudian muncul dalam berbagai versi dengan tambahan dua lagu pada dua belas lagu asli. Sebagai contoh, di edisi Amerika terdapat lagu bonus "Grow Up", dan "My Christmas List", sementara edisi Inggris terdapat lagu "One By One" dan "American Jesus" (live, lagu oleh Bad Religion), termasuk bonus dua video klip "I'd Do Anything" dan "I'm Just a Kid".
Di album ini juga terdapat vokal dari penyanyi dari dua band pop-punk lain, seperti dalam "I'd Do Anything" terdapat vokal Mark Hoppus dari Blink-182, dan dalam "You Don't Mean Anything" terdapat vokal Joel Madden dari Good Charlotte.
Pada tahun 2002, tahun saat Simple Plan merilis album ini, Simple Plan tampil di lebih dari 300 pertunjukan, menduduki posisi puncak chart "Alternative New Artist", dan tampil pada tur Jepang dimana tiketnya terjual habis.[6] Pada 2003, mereka tampil sebagai salah satu band utama di Vans Warped Tour. Juga sebuah penampilam yang terekam dalam sebuah film komedi kritik, Punk Rock Holocaust, dimana empat dari mereka diceritakan terbunuh. Mereka juga tampil dalam Warped Tour tahun 2004 dan 2005. Juga di 2003, mereka menjadi aksi pembuka untuk tur "Try To Shut Me Up" milik Avril Lavigne.[6] Sebagai tambahan beberapa tur, mereka juga menjadi aksi pembuka untuk Green Day dan Good Charlotte.[6] Album ini terjual 1 juta copy hingga awal 2003 tetapi album ini telah terjual 4 juta copy di seluruh dunia, menjadikan album tersukses mereka secara komersial.

Pada Oktober 2004, Simple Plan merilis album kedua mereka yang berjudul Still Not Getting Any..., yang nantinya diikuti oleh singel "Welcome to My Life", "Shut Up!", "Untitled (How Could This Happen to Me?)", dan "Crazy".
Seperti disebutkan sebelumnya, ketika menulis materi album "No Pads, No Helmets…Just Balls", para personil Simple Plan menginginkan album yang murni pop-punk. Tetapi kali ini, dalam proses menulis album "Still Not Getting Any…", mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin membatasi diri mereka pada genre punk, tetapi agaknya membiarkan diri mereka untuk menulis "musik yang baik".Berdasarkan bonus DVD dari "Still Not Getting Any…", selama pembuatan album, para personil Simple Plan sempat memikirkan beberapa nama unutk album ini, seperti "Get Rich or Die Trying" dan "In The Zone". Mereka memilih nama "Still Not Getting Any…" (arti: Masih Tidak Bisa Mendapatkan … satupun) untuk beberapa alasan. Alasan yang paling terkenal dan kira-kira paling mewakili adalah karena mereka berpikir bahwa mereka belum mendapatkan penilaian yang bagus, Pierre Bouvier menambahkan bahwa mereka baru mendapatkan satu penilaian yang baik, yaitu dari Alternative Press. Alasan yang lain adalah bahwa saat itu mereka masih belum mendapatkan respek yang baik. Ada banyak lagi alasan yang diutarakan oleh mereka, karena kata apapun benar-benar dapat diletakkan di bagian elipsis pada judul tersebut. Chuck Comeau menambahkan bahwa nama album tersebut "serba guna".
Sementara itu , dari segi musik "Still Not Getting Any…" menunjukkan perubahan yang dramatis dari gaya bermain Simple Plan. Mereka masih dapat menjaga gaya mereka untuk tetap menggunakan lirik downbeat yang dipadu dengan musik upbeat, tetapi mereka berhasil untuk keluar dari standar genre pop-punk. Walaupun banyak lagu dari album ini yang masih membawakan perasaan labil seorang remaja seperti lagu "I'm Just a Kid" dari album mereka sebelumnya, secara umum album ini cenderung ke tema lirik yang lebih dalam dan lebih dewasa, termasuk juga suara musik yang terdengar sedikit lebih keluar dari gaya pop-punk murni. Beberapa penilaian profesional menekankan pada penyertaan elemen rock "klasik" dan "tendensi", mengatakan bahwa album ini "tidak menekankan pop-punk yang sangat aktif dalam tujuan membentuk rock modern yang dibentuk dengan rapi dan tidak basa-basi".[7]



Setelah sekitar satu setengah tahun dalam tur "Still Not Getting Any…", mereka mengakhiri tur tersebut pada Februari 2006, untuk kemudian mengambil waktu istirahat singkat sebelum memulai pekerjaan pada album ketiga mereka. Pierre Bouvier melalui situs blog MySpace resminya mengatakan bahwa ia sedang menuju Miami pada 21 Maret 2007 untuk bekerja dengan seorang produser yang saat itu belum diketahui siapa, yang kemudian diketahui adalah Dave Fortman. Simple Plan mulai memasuki studio untuk tahap pra-produksi di Los Angeles pada 29 Juni. Pada 15 Juli mereka kembali ke Montreal untuk merekam lagu mereka di Studio Piccolo, studio yang sama tempat mereka merekam "Still Not Getting Any…." Ketika mereka selesai merekam seluruh lagu, mereka kembai ke Miami untuk tahap mixing dan mastering. Beberapa sentuhan akhir pada album dilakukan di New York dan album mereka resmi selesai pada 21 Oktober 2007, walaupun kemudian mereka kembali ke studio untuk merekam ulangabeberapa lirik dalam lagu "Generation".
"When I'm Gone", singel pertama dari album Simple Plan dirilis pada 29 Oktober 2007. Album Simple Plan diproduseri oleh Dave Fortman, yang terkenal atas kerjanya dengan Avril Lavigne dan Kelly Clarkson. Pada 17 Februari 2008, Simple Plan mendapatkan posisi chart tertinggi mereka di Inggris, setelah dua album sebelumnya gagal memasuki chart disana. Pada 29 November 2007, Simple Plan mengumumkan akan menunda tanggal rilis album dari sebelumnya 29 Januari 2008 menjadi tanggal 12 Februari 2008. Mereka juga merilis album dengan label "Japan version", dengan tambahan 2 lagu, yang dirilis seminggu lebih awal, yaitu pada 6 Februari 2008. Album ini adalah album yang paling gagal menuai sukses jika dibandingkan dengan seluruh album mereka.[8]
Setelah menyelesaikan tur promosional internasional mereka, Simple Plan tampil pada beberapa acara liburan pada Desember 2007. Pada 1 Juli 2008, mereka membuat konser gratis di Quebec City, Plains of Abraham, menarik 150.000 penonton ke acara Canada Day.[9] Setelah kemabali dari Asia tengah dan timur pada akhir Juli, mereka kembali pada tur ke seluruh Kanada[10] bersama dengan Faber Drive dan Cute is What We Aim For.[11] Metro Station dan The All-American Rejects sebenarnya dijadwalkan untuk ambil bagian dalam tur tersebut, namun dibatalkan karena suatu hal. Mereka kembali pada tur penuh Eropa kedua mereka pada 28 Oktober hingga 29 November, dengan Estonia dan Polandia untuk pertama kalinya. Simple Plan juga tampil di Tel Aviv dan Dubai pada awal Desember, dimana pada konser ini mereka tampil dengan empat personil mengikuti absennya bassist David Desrosiers karena masalah keluarga dan digantikan sementara oleh Sébastien Lefebvre untuk mengisi posisi bass.

Simple Plan merilis album keempat mereka yang berjudul Get Your Heart On! pada 21 Juni 2011. Album ini diproduseri oleh Brian Howes.[12][13] Album mereka kali ini adalah kali kedua mereka berkolaborasi dengan artis lain sejak album No Pads, No Helmets...Just Balls bersama Mark Hoppus (Blink-182) dan Joel Madden (Good Charlotte). Pada album ini, mereka berkolaborasi dengan Rivers Cuomo (Weezer), Natasha Bedingfield, K'naan dan Alex Gaskarth (All Time Low).[14] Pada 20 April mereka mengumumkan bahwa "Jet Lag" akan menjadi singel pertama dari album ini. Lagu tersebut dirilis dalam versi Inggris dan Perancis dimana Simple Plan berkolaborasi dengan Natasha Bedingfield dan Marie-Mai pada masing-masing lagu.[15] Untuk mempromosilan lagu tersebut, sebuah layanan bernama "JetLag Airlines" dibuat di situs web mereka, berisi berita, lirik, daftar lagu, dan video terkait album keempat mereka. "Jet Lag" diputar perdana pada 25 April, sementara video musiknya dirilis pada 4 Mei bersama Natasha Bedingfield dan 16 Mei bersama Marie-Mai.


wikipedia
»»  Selengkapnya

Senin, 17 Oktober 2011

Al Capone (Gangster)

Alphonse Gabriel Capone (lahir di New York City, 17 Januari 1899 – meninggal di Miami Beach, 25 Januari 1947 pada umur 48 tahun), secara populer dikenal sebagai Al Capone atau Scarface, adalah seorang Gangster Amerika Serikat yang memimpin sindikat kriminal memiliki dedikasi terhadap penyelundupan dan menjual secara gelap minuman keras dan aktivitas ilegal lainnya selama Era Pelarangan tahun 1920-an dan 1930-an.

Al Capone merupakan anak keempat dari pasangan Gabriele dan Teresina Capone, imigran asal Italia Selatan yang bermigrasi ke Amerika Serikat tahun 1893. Di Amerika, keluarga Capone pertama tinggal di 95 Navy Street. Saat Al berusia 11 tahun, keluarga Capone pindah ke 21 Garfield Place di Park Slope, Brooklyn.
Al Capone putus dari sekolah umum di Brooklyn, ia kemudian bekerja serabutan di sana termasuk di sebuah toko permen dan bowling. Selama masa itu Al Capone dipengaruhi oleh Giovanni Torrio alias John "Papa Johnny" Torrio atau disebut juga "The Fox" yang kelak menjadi mentornya.

Setelah pekejaannya sebagai pencuri kelas teri, Al Capone bergabung dengan komplotan yang terkenal buruknya yaitu Five Points Gang. Kemudian dia dipekerjakan sebagai tukang pukul di Coney Island Dance Hall and Saloon oleh Frankie Yale Si Tukang Palak. Di sinilah Al Capone menerima bekas luka yang membuat ia mendapat panggilan "Scarface".
Pada tanggal 30 Desember 1918, Al Capone menikah dengan Mae Josephine Coughlin, seorang perempuan Irlandia dan dikaruniai seorang putera yang diberi nama Albert Francis "Sonny" Capone. Kemudian, sekitar tahun 1921, Al Capone dan keluarga kecilnya memutuskan pindah ke Chicago dan menempati rumah di 7244 South Prairi Ave, selatan kota Chicago. Capone datang atas undangan Torrio yang sedang mencari peluang usaha berdagang barang-barang gelap. Masa itu Torrio memperoleh kekayaan dari hasil kejahatan James "Big Jim" Colosimo yang terbunuh (dugaan dibunuh oleh Frankie Yale, walaupun tuduhan itu tidak terbukti karena kekurangan bukti) setelah menolak memasuki bidang bisnis baru dan Al Capone pada masa itu juga telah didakwa melakukan pembunuhan.
Setelah pemilihan walikota 1923, walikota Chicago terpilih, William Emmet Dever melakukan reformasi, pemerintah kota Chicago mulai melakukan tekanan terhadap gangster dan penjahat di kota Chicago. Hal ini membuat para gangster dan penjahat gerah. Untuk menaruh markas besarnya di luar kota yurisdiksi, organisasi Capone (Chicago Outfit) masuk dengan cara kekerasan ke Cicero, Illinois. Mereka bertarung dengan penjahat Cicero, Myles O'Donnell dan William "Klondike" O'Donnell untuk memperebutkan kekuasaan di pusat kota Cicero. Kemenangan ada di tangan Capone, dan itu merupakan kemenangan Capone yang paling luar biasa; pengambilalihan pemerintah kota Cicero pada tahun 1924. Perang tersebut mengakibatkan lebih dari 200 orang tewas.
Capone (lewat pengikutnya Murray The Hump), mendalangi pembunuhan yang paling terkenal dalam dunia gang abad ke-20, Pembantaian hari Valentine. Di Chicago, pada tanggal 14 Februari 1929, terjadi peristiwa penembakan tujuh anggota gangster mafia Bugs Moran secara kejam. Meskipun rincian dari pembunuhan disebutkan hanya tujuh korban yang ditemukan di sebuah garasi 2212 North Clark Street tapi diperkirakan sesungguhnya korban tewas lebih dari itu. Kejadian itu langsung dihubungkan dengan Capone dan para pengikutnya terutama Murray the Hump dan Jack "Machine Gun" McGurn tapi tidak seorang pun pernah didakwa atas peristiwa tersebut.

Akhir dari sepak terjang Al Capone sendiri bukan karena pembunuhan, penganiayaan, perampokan, pencurian ataupun penyuapan, namun karena kasus penyelundupan. Al Capone ditangkap saat menyelundupkan minuman keras oleh agen FBI yang bernama Eliot Ness, yang sudah mengincar Al Capone sejak lama. Kasus itulah yang akhirnya menjadi pintu bagi para penegak hukum di AS untuk mengadilinya secara berlapis di meja hijau.
Al Capone akhirnya meninggal karena sakit setelah melewati hari-harinya selama 11 tahun di penjara dan rumah sakit.
 (wikipedia)

 Al Capone's Quotes

Capitalism is the legitimate racket of the ruling class.
Al Capone

I am like any other man. All I do is supply a demand.
Al Capone

I don't even know what street Canada is on.
Al Capone

I have built my organization upon fear.
Al Capone

My rackets are run on strictly American lines and they're going to stay that way.
Al Capone

Now I know why tigers eat their young.
Al Capone

Prohibition has made nothing but trouble.
Al Capone

This American system of ours, call it Americanism, call it capitalism, call it what you will, gives each and every one of us a great opportunity if we only seize it with both hands and make the most of it.
Al Capone

Vote early and vote often.
Al Capone

When I sell liquor, it's called bootlegging; when my patrons serve it on Lake Shore Drive, it's called hospitality.
Al Capone

You can get much farther with a kind word and a gun than you can with a kind word alone.
Al Capone
»»  Selengkapnya

NOFX

NOFX band punk rock yang berasal dari daerah San Fransisco, California ini dibentuk pada tahun 1983. Ketika itu Eric Melvin sang gitaris bersama Fat Mike bas/vocal memulai band ini dengan nama NO-FX. Setelah drumer Eric Sandin bergabung tidak lama kemudian barulah nama band ini berubah menjadi NOFX sampai sekarang.
Bergabung nya El Hefe sebagai lead gitar dan trumpet pada tahun 1991 semakin membuat nama band yang bergerak di jalur indie ini semakin berkibar.
Banyak yang mencoba mendefinisikan jenis musik yang di bawakan oleh band ini, ada yang menyebut nya punk melodic, melodic core, hardcore punk dsb. Tetapi apapun definisi nya tetap saja semangat yang dibawa oleh ke empat orang ini adalah semangat anti kemapanan dan pemberontakan ala punk.
Kemampuan bermusik semua personil dan olah vokal ke empat orang ini, terutama Fat Mike, El Hefe dan Eric Melvin membuat band ini selain menyajikan musik dalam tempo cepat juga menyajikan harmoni yang jarang di temui pada band-band punk lain nya.
Tetapi karena semangat anti kemapanan dan pemberontakan yang mereka tunjukan begitu kental dalam lyrics lagu-lagu mereka membuat perusahaan rekaman besar atau major label record belum bisa menerima kehadiran mereka untuk bergabung di bawah label mereka.
Begitu juga bagi stasiun radio comercial dan jaringan televisi MTV yang tidak pernah memutar lagu-lagu mereka yang bisa membuat kuping panas bagi orang-orang yang mereka kritik.
Bisa di ibaratkan kalau Green Day dengan lyrics mereka yang menyindir atau menyentil, tapi kalau NOFX tidak, mereka langsung menunjuk hidung orang-orang yang mereka kritik.
Kritik yang sering dilontarkan dalam lagu-lagu NOFX adalah tentang racisme, perang dan tentu saja pemerintah di negara mereka sendiri.
Bisa anda bayangkan lagu mereka dengan judul “Don’t Call Me White”, padahal yang menyanyikan nya adalah orang berkulit putih. Juga kritikan mereka terhadap pemerintah Amerika pada lagu “Perfect Goverment”, “you love to watch the war from the white house and I wonder, how can they sleep at night”, wow benar-benar membuat kuping pemerintah negara nya panas.
Pada album “Heavy Petting Zoo”, mereka menuliskan kata-kata, “No Thank’s for MTV, quiet bugging us”, “No Thank’s for commercial radio, quiet palying us”. Mereka bisa begitu idealis karena memang mereka tidak mengandalkan musik sebagai penunjang hidup, mereka menjadikan musik sebagai tempat untuk menyalurkan aspirasi dan pemikiran mereka untuk perbaikan dunia tanpa ada campur tangan pihak lain.
Mereka sering berpartisipasi dalam festival-festival band underground seperti Van’s Warped Tour dan juga Summer Sonic di Jepang, selain konser-konser tunggal mereka dan bersama band-band punk lain nya seperti Rancid, Bad Religion, Anti Flag dll.

Aksi NOFX ketika menggoyang publik Jakarta pada tanggal 21 April 2007 di arena PRJ, Kemayoran.(foto:nofxasiantour)


Pada tanggal 21 April 2007, band ini sempat mampir ke Jakarta untuk menggelar konser, tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan langka untuk menyaksikan penampilan mereka secara langsung.
Dengan harga tiket Rp 75.000 dan arena konser mereka waktu itu di arena PRJ kemayoran, harga tiket itu terasa murah sekali untuk menyaksikan salah satu dedengkot band punk ini.
Dimulai dengan sapaan “Assalamualikum” dari El Hefe mereka pun membuat seluruh penonton yang memadati arena pertunjukan bergoyang dan bermoshing ria selama kurang lebih 2 jam.
Seluruh lagu-lagu terbaik yang mereka punya ditumpahkan saat itu, saya pun tidak bisa menahan diri untuk ikut bersama ribuan penonton untuk bergoyang dan bernyanyi bersama Fat Mike, El Hefe dan Eric Melvin yang selalu bertelanjang dada ketika konser, benar-benar punk party yang dahsyat.
Saya pun coba membandingkan dengan konser Green Day pada tahun 1996 di JCC yang saya hadiri. Semangat yang di bawa kedua nya hampir sama hanya tempat out door dan in door saja yang membedakan sedangkan untuk nilai pertunjukan nya saya nilai sama.
Fat Mike di sela-sela jeda antara lagu juga sempat menyindir band Good Charlotte yang memang hanya berjarak satu minggu dari konser mereka di Jakarta sebagai anak mami..ha..ha..ha.ha.
Tetapi ada kesan yang tidak enak dari konser mereka, karena ternyata panitia penyelenggara tidak bertanggung jawab dan membawa kabur uang yang di dapat dari hasil penjualaan tiket dan meninggalkan mereka di hotel tanpa ada uang kompensasi sesuai dengan perjanjian. Jadilah mereka mendanai sendiri konser mereka di Jakarta mulai dari transportasi, akomodasi dll.
Ditengah kesulitan itu mereka mendapatkan bantuan dari band lokal asal Bali Superman Is Dead yang merupakan fans mereka untuk menggelar konser susulan di Bali untuk mencari dana.
SID memang menjadikan NOFX sebagai band panutan dan sebelum mencuat dengan lagu-lagu mereka SID selalu membawakan lagu NOFX ketika menggelar konser.
Apa yang bisa diambil dari kejadian konser mereka yang diculasi oleh panitia penyelenggara konser mereka adalah, mereka tidak memperpanjang masalah ini dan memahami bahwa mungkin panitia sedang butuh duit…he..he.he.
Sebagai balasan dari kebaikan yang di berikan oleh SID, mereka merekomendasikan SID untuk bisa mengikuti Van’s Warped Tour 2009 di beberapa kota di Amerika, jadilah akhir nya SID bisa menembus Amerika sebagai pengisi acara di konser tour itu bersama NOFX, Anti Flag dan band-band punk papan atas dari Amerika.
Bisa disimak dari lyrics salah satu lagu mereka “Perfect Government”, yang sangat sarat kritik bagi pemerintah Amerika, tentang perang, korupsi dan kebebasan berpendapat. Benar-benar semangat pemberontakan yang tidak pernah akan mati.
»»  Selengkapnya

Sabtu, 01 Oktober 2011

Teknik dasar twin pedal

1.dalam menginjak pedal ada teknik heel up(tumit diangkat) dan heel down (tumit g diangkat), dalam bermain double pedal teknik yang digunakan adalah heel up dan posisi kaki sebaiknya ada di tengah pedal jangan di ujung pedal karena jika diujung atas pedal maka kita juga membutuhkan tenaga untuk mengangkat kaki, jika ditengah maka kita hanya butuh energi untuk menginjak pedal.
2.posisi badan harus rileks dan tegak lurus dengan drum jangan miring ke belakang karena menghabiskan tenaga untuk menopang tubuh (tubuh cepat lelah)
3.biasanya kesulitan bermain double pedal secara konstan adalah kaki kiri yang sulit menyamai kelincahan kaki kanan, salah satu cara untuk melatih kaki kiri adalah dengan memainkan lagu2(lagu2 biasa yang g pake double pedal) tapi dalam memainkan bass drumnya menggunakan kaki kiri(pake twin pedal saja g usah membalik posisi drum)
4. lakukan latihan linier grove(pukulan yang jatuh secara bergantian) dengan konstan agar nantinya bisa melakukan berbagai macam variasai doble pedal
5.optimis, latihan dan latihan karena double pedal itu emang susah2 gampang.

http://mochammadikhyan.blogspot.com/2009/09/cara-dasar-memainkan-double-pedal-drum.html
»»  Selengkapnya

Ini Dia Vans Bali







»»  Selengkapnya